Senin, 21 November 2011

makalah dinamika masyarakat dan kebudayaan

DINAMIKA MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN

MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Landasan Pendidikan
Dosen : Dr. Burhanuddin,TR,M.Pd


Di susun oleh:
Risah Elisa (1004005)
Kelas 1A




PROGRAM S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS PURWAKARTA
2011

KATA PENGANTAR
            Alhamdulillah, segala puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya makalah yang berjudul “ Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan”.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta umatnya yang senantiasa mengikuti dan mengamalkan ajarannya.
Untuk menganalisa secara ilmiah tentang gejala-gejala dan kejadian social budaya di masyarakat sebagai proses-proses yang sedang berjalan atau bergeser memerlukan konseo-konsep. Konsep-konsep dalam menganalisa proses pergeseran masyarakat dan kebudayaan dalam sebuah penelitian antropologi dan sosiologi disebut dinamik sosial (social dynamic).
            Kajian dalam makalah ini terdiri dari tiga bab. Diawali bab pendahuluan dan diakhiri dengan bab kesimpulan, dengan rincian sebagai berikut Bab I, merupakan bab Pendahuluan yang berisikan : a) latar belakang masalah, b) rumusan masalah, c) tujuan penulisan makalah, d) prosedur penulisan makalah, e) sistematika penulisan makalah.
            Bab II, merupakan kajian teoritik tentang Dinamika Masyarakat dan Budaya yang meliputi konsep-konsep dan konsepsi-konsepsi khusus mengenai pergeseran masyarakat dan budaya, proses budaya belajar sendiri, proses evolusi sosial, proses difusi, akulturasi dan asimilasi, dan pembaruan atau inovasi.
            Bab III merupakan bab penutup yang berisikan kesimpulan.
            Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu, selayaknya diucapkan terima kasih kepada Drs. Burhanuddin TR, M.Pd selaku dosen mata kuliah Landasan Pendidikan dan teman-teman yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu.
“ Tak ada Gading yang Tak Retak” begitulah kata pepatah. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan, dan kepada Allahlah segala kekurangan makalah ini dikembalikan, dan mudah-mudahan makalah ini bermanfaat.

                                                                                                                     Purwakarta, Mei  2011
 Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Effendi,R.(2006:61) mengemukakan bahwa masyarakat merupakan kelompok atau kolektivitas manusia yang melakukan antarhubungan, sedikit banyak bersifat kekal, berlandaskan perhatian dan tujuan bersama, serta telah melakukan jalinan secara berkesinambungan dalam waktu yang relatif lama.
E.B. Tylor (soekanto,S.:2007:150) mengungkapkan bahwa kebudayaan adalah kompleks yang mencangkup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, adat istiadat, dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Hermana,,R (2006: 67) mengemukakan bahwa di alam  raya atau jagad raya ini tidak ada yang kekal abadi. semikian pula, setiap masyarakat selama hidup pasti mengalami perubahan-perubahan atau pergeseran-pergeseran. pergeseran tersebut ada yang berjalan lambat dan ada pula yang berjalan cepat, bahkan sangat cepat. Perubahan yang berjalan lambat dari tahap ke tahap berikutnya secara berkesinambungan dikonsepsikan sebagai evolusi. Sedangkan perubahan yang cepat atau bahkan bias sangat cepat dikonsepsikan sebagai revolusi.

Hermana,R (2006:67)  berpendapat bahwa perubahan dalam masyarakat dapat mengenai nilai-nilai social, norma-norma social, pola-pola prilaku organisme, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi social dan lain sebagainya. Dan perubahan-perubahan yang terjadi  pada masyarakat dewasa ini merupakan gejala yang normal, yang pengaruhnya dapat menjalar dengan cepat kebagian-bagian dunia lain berkat adanya komunikasi modern. Contohnya ketika ada penemuan-penemuan baru dibidang teknologi yang terjadi disuatu tempat, dengan cepat dapat diketahui oleh masyarakat lain yang berada jauh dari tempat tersebut.
Koentjaraningrat (2003:142) mengemukakan bahwa,
Untuk menganalisa proses-proses pergeseran masyarakat dan kebudsayaan, termasuk lapangan penelitian antropologi dan sosiologi yang disebut dinamika social. Diantara konsep-konsep yang terpenting ada yang mengenai proses-proses belajar kebudayaan sendiri, yakni internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi. Selain itu ada proses perkembangan kebudayaan umat manusia (atau “evolusi kebudayaan”) dari bentuk-bentuk kebudayaan yang sederhana hinggaa yang makin lama makin kompleks, yang dilanjutkan dengan proses penyebaran kebudayaan-kebudayaan yang terjadi bersama dengan perpindahan bangsa-bangsa di muka bumi ( yaitu proses difusi ). Proses lainnya adalah proses perkenalan budaya-budaya asing yang disebut “proses akulturasi” dan “asimilasi”. Akhirnya ada proses pembaharuan, atau “inovasi”, yang berkaitan erat dengan penemuan baru (yang dalam bahasa inggris disebut discovery dan invention)
B.     Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan suatu pokok masalah yang kemudian disusun dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1.    Apa konsep-konsep mengenai pergeseran masyarakat dan kebudayaan?
2.    Apa proses belajar kebudayaan sendiri?
3.    Apa proses evolusi social?
4.    Apa proses Difusi?
5.    Apa Akulturasi dan Pembaharuan atau Asimilasi?
6.    Apa Perubahan atau Inovasi?
C.      Tujuan Penulisan.
Tujuan yang hendak dicapai dalam kajian ini adalah untuk mengetahui konsep-konsep dan konsepsi-konsepsi mengenai pergeseran masyarakat dan kebudayaan, proses belajar kebudayaan sendiri proses belajar kebudayaan sendiri, proses evolusi social, proses difusi, akulturasi dan pembaharuan atau asimilasi, dan perubahan atau inovasi
D.      Prosedur Pemecahan Masalah.
Prosedur pemecahan masalah yang digunakan dalam menjawab rumusan masalah dalam makalah ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif yaitu metode yang mengembangkan suatu permasalahan atau tema penulisan yang bersumber dari buku, internet,atau sumberlain yang telah ada.
E.       Sistematika Penulisan.
Makalah ini terdiri dari tiga bab. Diawali bab pendahuluan dan diakhiri dengan bab kesimpulan, dengan rincian sebagai berikut:
Bab I, merupakan pendahuluan yang berisikan: a) latar belakang masalah, b) rumusan masalah, c) prosedur pemecaha masalah, d) tujuan penulisan, dan e) sistematika penulisan.
Bab II, merupakan kajian teoretik tentang makna landasan sosiologis dan antropologis pendidikan, berisikan: a) konsep-konsep dan konsepsi-konsepsi khusus mengenai pergeseran masyarakat dan kebudayaan, b) proses belajar kebudayaan sendiri, c) proses evolusi sosial, d) proses difusi, e) Akulturasi dan pembauran atau Asimilasi, dan f) pembaharuan inovasi
Bab III, merupakan bab penutup yang berisikan kesimpulan.

BAB II
DINAMIKA MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
A.      Konsep-konsep dan Konsepsi-konsepsi Khusus Mengenai Pergeseran Masyarakat dan Budaya.
Menurut Fathoni,A (2006:23) konsep-konsep yang diperlukan apabila ingin menganalisis secara ilmiah proses pergeseran masyarakat dan kebudayaan, termasuk lapangan penelitian antropologi dan sosiologi yang disebut dinamika social.
Koentjaraningrat (2003:142) mengemukakan bahwa,
Untuk menganalisa proses-proses pergeseran masyarakat dan kebudayaan, termasuk lapangan penelitian antropologi dan sosiologi yang disebut dinamika social. Diantara konsep-konsep yang terpenting ada yang mengenai proses-proses belajar kebudayaan sendiri, yakni internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi. Selain itu ada proses perkembangan kebudayaan umat manusia (atau “evolusi kebudayaan”) dari bentuk-bentuk kebudayaan yang sederhana hinggaa yang makin lama makin kompleks, yang dilanjutkan dengan proses penyebaran kebudayaan-kebudayaan yang terjadi bersama dengan perpindahan bangsa-bangsa di muka bumi ( yaitu proses difusi ). Proses lainnya adalah proses perkenalan budaya-budaya asing yang disebut “proses akulturasi” dan “asimilasi”. Akhirnya ada proses pembaharuan, atau “inovasi”, yang berkaitan erat dengan penemuan baru (yang dalam bahasa inggris disebut discovery dan invention)

B.       Proses Belajar Kebudayaan Sendiri.
1.        Proses Internalisasi.
Koentjaraningrat (2003:142) mengungkapkan bahwa,
proses internalisasi adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup individu, yaitu mulai saat ia dilahirkan sampai akhir hayatnya. Sepanjang hayatnya seorang individu terus belajar untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu, dan emosi yang kemudian membentuk kepribadiannya.
Menurut Effendi,R (2006:145) proses internalisasi adalah proses pengembangan potensi yang dimiliki manusia, yang dipengaruhi baik lingkungan internal dalam diri manusia itu maupun eksternal, yaitu pengaruh dari luar diri manusia.
Dapat disimpulkan bahwa proses internalisasi merupakan proses pengembangan atau pengolaan potensi yang dimiliki manusia, yang berlangsung sepanjang hayat, yang dipengaruhi oleh lingkungan internal maupun eksternal.
Menurut Fathoni,A (2006:24 ) proses internalisasi tergantung dari bakat yang dipunyai dalam gen manusia untuk mengembangkan berbagai macam perasaan, hasrat, nafsu, dan emosinya. Tetapi semua itu juga tergantung dengan pengaruh dari berbagai macam lingkungan sosial dan budayanya. Contoh: bayi yang lahir terus belajar bagaimana mendapatkan perasaan puas dan tidak puas.

2.        Proses sosialisasi.
Fathoni,A (2006:25) proses sosialisasi bersangkutan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sistem sosial. Dalam proses itu seorang individu dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu di sekililingnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut koentjaraningrat (2003:145) individu dalam masyarakat ynang berbeda-beda akan mengalami proses sosialisasi yang berbeda-beda, karena proses itu banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan serta lingkungan sosial yang bersangkutan.
Effendi,R (2006:24) mengemukakan bahwa syarat terjadinya proses sosialisasi adalah:
a)   individu harus diberi keterampilan yang dibutuhkan bagi hidupnya kelak dimasyarakat; b) individu harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuannyauntuk membaca, menulis dan berbicara; c) pengendalian fungsi-fungsi organic harus dipelajari melalui latihan-latihan wawas diri yang tepat; d) individu harus dibiasakan dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada pada masyarakat.
3.        Proses Enkulturasi.
Koenjtaraningrat (2003:145) mengemukakan bahwa proses enkulturasi merupakan proses belajar dan menyesuaikan alam pikiran serta sikap terhadap adat, system norma, serta semua peraturan yang terdapat dalam kebudayaan seseorang.
Effendi,R (2006:146) mengemukakan bahwa,
sejak kecil proses enkulturasi sudah dimulai dalam alam pikiran manusia, mula-mula dari lingkungan keluarga, kemudian teman bermain, lingkungan masyarakat dengan meniru pola prilaku yang berlangsung dalam suatu kebudayaan. Oleh karena itu proses enkulturasi disebut juga dengan pembudayaan.
Koentjaraningrat (Soekanto,S.:2007:168) mengemukakan bahwa,
akulturasi terjadi bila suatu kelompok manusia dengan satuan kebudayaan yang tertentu dihadapkan pada unsur-unsur suatu kebudayaan asing yang berbeda sedemikian rupasedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu dengan lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tampa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
Soekanto,S (2007:169) mengemukakan bahwa,
proses akulturasi yang berjalan dengan baik dapat menghasilkan integrasi antara unsur-unsur kebudayaan asing dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri. Dengan demikian, unsur-unsur kebudayaan asing tidak lagi dirasakan sebagai hal yang berasal dari luar, tetapi dianggap sebagai unsur-unsur kebudayaan sendiri.
C.      Proses Evolusi Sosial
1.      Proses Prose Microscopic dan Macroscopic dalam Evolusi Sosial.
Koentjaraningrat (2003:147) mengemukakan bahwa,
proses evolusi dari suatu masyarakat dan kebudayaan dapat dianalisa secara mendetail (mikroskopik), tetapi dapat juga dilihat secara keseluruhan, dengan memperhatiakan perubahan-perubahan besar yang telah terjadi (makroskopik). Proses-proses social budaya yang dianalisa secara detail dapat memberi gambaran mengenai berbagai proses peribahan (yang dalam ilmu antropologi disebut recurrente processes)yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dari suatu masyarakat. Proses evolusi social budaya secara makroskopik yang terjadi dalam suatu jangka waktu yang panjang, dalam antropologi disebut “proses-proses pemberi arah”, atau directional processes.
2.      Proses-Proses Berulang dalam Evolusi Sosial Budaya.
Koentjaraningrat (2003:14) mengemukankan bahwa,
Dalam antropologi, perhatian terhadap proses-proses berulang dalam evolusi sosial budaya baru timbul sekitar tahun 1920 bersama dengan perhatian terhadap individu dalam masyarakat.sebelumnya, para ahli antropologi umumnya hanya memperhatikan adat istiadat yang lazim berlaku dalam masyarakat yang mereka teliti, tampa memperhatikan sikap, perasaan, serta tingkah laku para individu yang bertentangan dengan adat istiadat.
Kontaraningrat (2003:149) mengemukakan bahwa,
dalam meneliti masalah ketegangan antara adat istiadat yang berlaku dengan kebutuhan yang dirasakan oleh beberapa individu dalam suatu masyarakat, perlu diperhatikan dua konsep yang berbeda, yaitu (1) kebudayaan sebagai kompleks dari komsep norma-norma, pandangan-pandangan, dan sebagainya, yang bersifat abstrak (yaitu sistem budaya), dan (2) kebudayaan sebagai serangkaian tindakan yang konkrit, dimana para individu saling berinteraksi (yaitu sistem sosial). Kedua sistem tersebut sering saling bertentangan, dan dengan mempelajari konflik-konfliks yang ada dalam setiap masyarakat itulah dapat diperoleh pengertian mengenai dinamika masyarakat pada umumnya.
3.      Proses Mengarah dalam Evokusi Kebudayaan.
Koentjaraningrat (2003:149) mengemukakan bahwa,
Apabila evolusi masyarakat dan kebudayaan dipandang dari suatu jarak yang jauh dengan suatu interval yang panjang (misalnya beberapa ribu tahun), akan menentukan arah (directional) dari sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaan yang bersangkutan.
D.    Proses Difusi
1.        Penyebaran manusia.
Ilmu Paleoantropologi (Fathoni,A.:2006:28) memperkirakan bahwa
Manusia terjadi di daerah Sabana tropikal di Afrika Timur, dan sekarang makhluk itu sudah menduduki hampir seluruh permukaan bumi ini. Ini dapat diterangkan dengan dengan adanya proses pembiakan dan gerka penyebaran atau migrasi-migrasi yang disertai dengan proses adaptasi fisik dan sosial budaya dari manusia dalam jangka waktu yang sangat lama.
Fathoni,A (2006:29) mengemukakan bahwa,
Proses ini membagi menjadi dua proses migrasi, yaitu migrasi yang berlangsung lambat dan otomatis, dan migrasi yang berlangsung cepat dan mendadak. Migrasi yang lambat dan otomatis adalah sejajar dengan perkembangan dari manusia yang selalu banyak jumlahnya, sejak masa timbulnya di muka bumi hingga sekarang. Proses evolusi ini menyebabkan manusia senantiasa memerlukan daerah yang makin lama makin luas.
2.        Penyebaran unsur-unsur kebudayaan
Bersama dengan penyebaran dan migrasi kelompok-kelompok masyarakat di muka bumi ini, turut tersebar pula berbagai unsur kebudayaan.
Menurut kontjaraningrat (2003:152) Penyebaran unsur-unsur kebudayaan dapat juga terjadi tanpa ada perpindahan kelompok-kelompok manusia atau bangsa-bangsa, tetapi karena unsur-unsur kebudayaan itu memang sengaja dibawa oleh individu-individu tertentu, seperti para pedagang dan pelaut.
Dalam zaman yang modern saat ini penyebaran unsur-unsur kebudayaan tidak lagi mengikuti migrasi-migrasi kelompok, melainkan tanpa kontak lansung antar individu yang berbeda, ini disebabkan sekarang sudah banyak media-media yang membantu mempercepat persebaran kebudayaan dari satu tempat ke tempat lain, seperti televisi, radio, surat kabar, dan sebagainya.
E.       Akulturasi dan Asimilasi
Akulturasi adalah Proses sosial yang timbul apabila sekelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sehingga unsur-unsur asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu.(koentjaraningrat:2003:155)

Fathoni,A (2006:31) mengemukakan bahwa,
masalah-masalah mengenai akulturasi jika di ringkas, akan tampak 5 golongan masalah, yaitu : a) masalah tentang metode-metode untuk mengobservasi, mencatat, dan melukiskan suatu proses akulturasi dalam suatu masyarakat, b) masalah tentang unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah dan tidak mudah diterima oleh suatu masyarakat, c) masalah tentang unsur-unsur kebudayaan yang mudah dan tidak mudah diganti atau diubah oleh unsur-unsur kebudayaan asing, d) masalah mengenai jenis-jenis individu yang tidak menemui kesukaran dan cepat diterima unsur kebudayaan asing, dan jenis-jenis individu yang sukar dan lamban dalam menerimanya, e) masalah mengenai ketegangan-ketegangan serta krisis-krisis sosial yang muncul akibat akulturasi.

Koentjaraningrat (2003:157) mengungkapkan bahwa,
Dalam meneliti jalannya suatu proses akulturasi, seorang peneliti sebaiknya memperhatikan beberapa hal, yaitu: a) keadaan sebelum proses akulturasi dimulai, b) para individu pembawa unsur-unsur kebudayaan asing, c) saluran-saluran yang dilalui oleh unsusr-unsur kebudayaan asing untuk masuk ke dalam kebudayaan penerima, d) bagian-bagian dari masyarakat penerima yang terkena pengaruh, e) reaksi para individu yang terkena unsur-unsur kebudayaan asing.
Koentjaraningrat (2003:160) mengindentifikasikan bahwa,
asimilasi adalah suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda setelah mereka bergaul secara intensif, sehingga sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan golongan-golongan itu masing-masing berubah menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran.
Fathoni,A (2006:30) mengemukakan bahwa,
asimilasi timbul apabila ada: a) golongan manusia dengan latar belakang berbeda, b) saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama, c) kebudayaan golongan tadi berubah sifatnya dan wujudnya menjadi kebudayaan campuran sehingga golongan minoritas mengubah sifat khas unsur kebudayaan dan masuk kekebudayaan mayoritas.

            Menurut soekanto,S (2007:75) faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya asimilasi antara lain adalah:
a)      toleransi, b) kesempatan-kesempatan yang seimbang dibidang ekonomi, c) sikap menghargai orang asinng dan kebudayaannya, d) sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat, e) persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan, f) perkawinan campura (amalgamation), g) adanya musuh bersama dari luar.
F.       Pembaruan (Inovasi)
Inovasi adalah suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, dan modal serta penataan kembali dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru, sehingga terbentuk suatu sistem produksi dari produk-produk baru. Suatu proses inovasi tentu berkaitan  penemuan baru dalam teknologi, yang biasanya merupakan suatu proses sosial yang melalui tahap discovery dan invension. (Fathoni,A.:2006:32)
Menurut koentjaraningrat (2003:162) mengemukakan bahwa,
Faktor-faktor yang menjadi pendorong bagi seorang individu untuk memulai serta mengembangkan penemuan baru adalah: a) kesadaran akan kekurangan dalam kebudayaan, b) mutu dari keahlian dalam suatu kebudayaan, c) sistem perangsang bagi kegiatan mencipta. Penemuan baru sering kali terjadi saat ada suatu krisis masyarakat, dan suatu krisis terjadi karena banyak orang merasa tidak puas karena mereka melihat kekurangan-kekurangan yang ada di sekelilingnya.
Menurut koentjaraningrat (2003:162) mengemukakan bahwa penemuan baru seringkali terjadi saat ada suatu krisis masyarakat, dan suatu krisis terjadi karena banyak orang merasa tidak puas dengan keadaan. Sebaliknya, mereka tidak puas karena mereka melihat kekurangan-kekurangan yang ada disekelilingnya.
Koentjaraningrat (2003:162) mengemukakan bahwa upaya untuk mencari dan menciptakan penemuan baru seringkali juga terdorong oleh sistem perangsang yang ada dalam suatu masyaraka, misalnya berupa kehormatan, kedudukan tinggi, harta benda, dan sebagainya. Suatu penemuan baru selalu harus dilihat dalam rangka kebudayaan tempat penemuan tersebut terjadi, karena suatu penemuan baru merupakan perubahan yang bersifat mendadak, yaitu dari tidak ada menjadi ada. Suatu penemuan baru umumnya merupakan suatu rangkayan panjang, yang mula-mula merupakan penemuan-penemuan yang dihasilakan sejumlah pencipta. Dengan demikian proses inovasi itu merupakan suatu proses evolulusi. Bedanya ialah bahwa dalam proses inovasi  para individu berperan secara aktif, sedangkan dalam proses evolusi para individu itu pasif, bahkan seringkali negatif. Kerena kegiatan dan upaya individu itu, maka suatu inovasi merupakan suatu proses perubahan kebudayaan yang lebih cepat daripada proses evolusi kebudayaan.


BAB III 
KESIMPULAN
Dari uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan yaitu:
1.        Konsep yang di perlukan untuk menganalisa proses-proses pergeran masyarakat dan kebudayaan, termasuk lapangan penelitian antropologi dan sosiologi yang disebut dinamika sosial. Dari konsep dinamika sosial dapat ditarik beberapa konsep sederhana, yaitu: a) konsep Proses belajar kebudayaan oleh masyarakat itu sendiri, yakni internalisasi, sosialisasi, dan enkulturisasi, b) konsep proses perkembangan kebudayaan umat manusia atau evolusi kebudayaan, c) konsep proses penyebaran kebudayaan-kebudayaan yang terjadi bersamaan dengan perpindahan bangsa-bangsa di muka bumi atau proses difusi, d) konsep proses pengenalan unsure-unsur budaya asing, yang disebut proses akulturasi dan asimilasi, e) konsep proses pembaruan atau inovasi yang berkaitan erat dengan penemuan baru di bidang kebudaya.
2.        Proses belajar kebudayaan sendiri yaitu meliputi, proses internalisasi yaitu proses yang berlangsung sepanjang hidup individu, yang dimulai ketika individu dilahirkan sampai akhir hayatnya dan sepanjang hayatnya seorang individu terus belajar untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu, dan emosi yang kemudian membentuk kepribadiannya. Sedangkan proses sosialisasi yaitu proses seorang individu dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu di sekililingnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari.
3.        Proses evolusi sosial yaitu proses yang meliputi: a) Proses Prose Microscopic dan Macroscopic Dalam Evolusi Sosial. Proses evolusi dari suatu masyarakat dan kebudayaan dapat dianalisa secara detail (mikroskopik), tetapi dapat juga dilihat secara keseluruhan, dengan memperhatiakan perubahan-perubahan besar yang telah terjadi (makroskopik), b) proses-proses berulang dalam evolusi sosial budaya, dan c)  proses mengarah dalam evokusi kebudayaan
4.        Proses difusi terbagi menjadi dua yaitu, dengan proses penyebaran manusia yaitu proses mempelajari pembiakan dan gerak penyebaran atau migrasi yang disertai proses penyesuaian atau adaptasi fisik dan sosial budaya dari mahluk manusia dalam jangka waktu yang sangat lama bisa dikatan juga dari zaman purba. Dan proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan, proses ini biasanya mengikuti proses penyebaran dan migrasi kelompok masyarakat di muka bumi ini, karena kelompok yang bermigrasi pasti turut serta membawa kebudayaan walau itu tanpa mereka sadari, maka di tempat mereka yang baru budaya itu akan diterima oleh orang-orang setempat dan dengan sedikit penyaringan akan membaur dengan budaya yang sudah ada sebelumnya sehingga membuat suatu budaya yang baru.
5.        Akulturasi adalah Proses sosial yang timbul apabila sekelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sehingga unsur-unsur asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu. Sedangkan asimilasi adalah suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda setelah mereka bergaul secara intensif, sehingga sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan golongan-golongan itu masing-masing berubah menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran.
6.        Inovasi adalah suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, dan modal serta penataan kembali dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru, sehingga terbentuk suatu sistem produksi dari produk-produk baru. Suatu proses inovasi tentu berkaitan  penemuan baru dalam teknologi, yang biasanya merupakan suatu proses sosial yang melalui tahap discovery dan invension.

DAFTAR PUSTAKA
Ardiwinata, Jajat. 2007. Sosiologi Antropologi Pendidikan.Bandung: UPI PRESS

Effendi,Ridwan. 2006. Pendiidkan Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi. Bandung: UPI PRESS.

Fathoni, Abdurrahmat. 2006. Antropologi Sosial Budaya. Jakarta: PT Rineka Cipta

Hermana, Ruswendi. 2006. Perspektif Sosial Budaya. Bandung: UPI PRESS

Koentjaraningrat. 2003. Pengantar Antropologi I. Jakarta: PT Rineka Cipta

Soekanto,Soerjono.1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar